Advertisement
JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur untuk memperkuat penggunaan menu berbahan telur dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan tersebut dilakukan sebagai langkah membantu penyerapan hasil produksi peternak ayam petelur lokal yang saat ini menghadapi penurunan harga jual.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan instruksi tersebut merupakan respons atas aksi damai peternak ayam petelur di Magetan yang memprotes anjloknya harga telur di tingkat produsen.
Menurut Nanik, BGN memahami tekanan yang sedang dihadapi para peternak akibat tingginya biaya produksi dan lemahnya harga jual di pasaran. Karena itu, optimalisasi penggunaan telur dalam menu MBG diharapkan mampu membantu menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan penyerapan hasil ternak lokal.
“Kami telah menginstruksikan seluruh SPPG di Jawa Timur untuk mengoptimalkan penggunaan telur dalam menu MBG, sehingga dapat membantu meningkatkan penyerapan telur peternak dan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen,” ujar Nanik dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil koordinasi bersama Satgas MBG Kabupaten Magetan, penggunaan menu telur di SPPG direncanakan meningkat menjadi tiga kali dalam sepekan. Sebelumnya, menu berbahan telur hanya diberikan dua kali dalam satu minggu operasional program.
“Untuk membantu menaikkan harga telur, program MBG akan menggunakan menu telur hingga tiga kali dalam seminggu,” katanya.
Nanik menegaskan, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
“Program MBG memang dirancang tidak hanya untuk pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, termasuk peternak ayam petelur,” ujarnya.
BGN juga memastikan bahwa selama ini pasokan telur untuk kebutuhan SPPG di Kabupaten Magetan berasal dari peternak lokal. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga perputaran ekonomi daerah dan memperkuat rantai pasok pangan lokal di tengah fluktuasi harga komoditas peternakan.
Kebijakan optimalisasi penggunaan telur dalam menu MBG diharapkan dapat menjadi stimulus jangka pendek bagi peternak ayam petelur di Jawa Timur, sekaligus menjaga keberlanjutan program pemenuhan gizi nasional yang saat ini terus diperluas di berbagai daerah.
